Open Science

Mengapa Open Science?

Dr. Dasapta Erwin Irawan dalam "Penerapan open science di Indonesia agar riset lebih terbuka, mudah diakses, dan meningkatkan dampak saintifik" menyampaikan:

Riset adalah salah satu modal utama pengembangan bangsa. Tanpa riset maka ilmu tidak akan berkembang dan pola pikir masyarakatnya pun akan terbelenggu dengan pandangan-pandangan lama.

Hasil riset yang terjamin kualitasnya pada dasarnya memuat minimum dua hal, yakni logika koheren yang memadai serta ketangguhannya menyajikan eviden yang sesuai dengan kenyataan. Keduanya terintegrasi dengan cantik dan mencerminkan kontribusi hasil riset terhadap tubuh pengetahuan. Oleh karena itu, penguasaan terhadap perkembangan substantif bidang ilmu serta metodologi riset mutlak diperlukan seiring kita berurusan dengan "memajang" atau diseminasi hasil riset. Dalam hal ini, riset perlu dilihat sebagai sebuah siklus. Hasil sebuah riset mesti dipandang sebagai stimulasi untuk mengawali riset selanjutnya (dorongan sentrifugal) serta terus-menerus memperbaiki konstruksi riset itu sendiri (dorongan sentripetal).

Siklus riset sesungguhnya merupakan sebuah proses sosial yang terus-menerus mengasah ketajaman logis, metodologis, dan aksiologis riset itu. Sebagaimana hasil riset perlu selalu ditinjau konteksnya guna memperoleh pemahaman yang utuh, proses riset pun tidak terjadi dalam ruang hampa. Proses riset mesti dipandang sebagai sebuah historisitas yang melibatkan lima hal, yakni periset, subjek/objek yang diteliti, komunitas periset, komunitas penerbit hasil riset, serta komunitas penggunanya. Historisitas mencerminkan dialog berkelanjutan antar kelimanya. Kita dapat membayangkan sebuah kondisi ideal bahwa kelimanya berlomba-lomba dengan perannya masing-masing untuk bersinergi mencapai common good (kebaikan bersama). Dengan demikian, riset merupakan sebuah ajang dinamis yang tidak boleh direbut atau dikuasai oleh satu pihak saja. Partisipasi semua pihak pada titik proses mana saja sangat patut untuk memperoleh tempat dan apresiasi.

Jika begitu, kualitas apakah yang perlu dimiliki oleh para periset dan komunitasnya? Tidak lain adalah jiwa keterbukaan. Jiwa-jiwa yang terbuka secara organik akan menyusun sistem-sistem yang terbuka, demokratis, dan kolaboratif. Diduga bahwa faktor penghambat pertama dari proliferasi proses dan hasil riset adalah faktor psikologis. Untuk itu, tulisan ini dibuat untuk, diantaranya, menawarkan sebuah cara pandang yang hendak membongkar ketertutupan dalam seluruh lini proses riset.

results matching ""

    No results matching ""